UN ? Berhasilkah ?
Sebagai mantan mahasiswi SMU lulusan 2002 saya cukup bersyukur bahwa saya adalah angkatan pertama dimana UN mulai diberlakukan namun masih dengan standar yang kecil atau belum sempurna kata lainnya masih dalam tahap uji coba :p . Alhamdulillah lulus walaupun hampir semua murid lulus dengan nilai yang tidak pernah disangka-sangka akan muncul dalam ijazah nya (baca :angka yang tida memuaskan) :p
Dari tahun ke tahun setelah kelulusan, saya selalu ingin tahu presentase kelulusan mahasiswa. Sampai pada akhirnya kemarin, pengumuman UN pun tiba untuk seluruh angkatan 2010, dan betapa kagetnya saya mendapati bahwa banyak mahasiswa yang berasal dari SMU saya dulu yang tidak lulus. Yup, salah satu SMU favorit di Palembang yang selalu membanggakan mahasiswa/i lulus 100% sekarang sudah mulai ternodai prestasinya. Para alumnus pun tidak bisa berkomentar apapun, termasuk saya. Sebagai contoh lain, presentasi kelulusan di Jogja -penghasil dokter,doktor,profesor- menurun drastis hingga 40%. Bayangkan betapa banyak mahasiswa/i termasuk keluarga nya yang kecewa akan hal ini.
Pagi ini, ada ulasan mengenai UN dan budget pemerintah untuk pendidikan sebesar 20% di salah satu tv lokal. Dalam ulasan tersebut keluar pertanyaan, untuk apakah budget tersebut digunakan? Kalau memang budget tersebut digunakan untuk UN, lalu mana buktinya?
Saya pribadi adalah salah satu yang kurang setuju dengan adanya UN. Kenapa?
Karena pada kenyataannya, masing-masing provinsi memiliki kriteria dan kualitas pendidik, murid, fasilitas sekolah yang berbeda-beda. Lalu bagaimana bisa pada saat akhir masa studi, diberikan tes yang kualitas soal nya disama ratakan dengan provinsi lain? Bukan hanya dilihat dr segi pendidik, dan fasilitas sekolah, banyaknya gadgets dengan fasilitas yang ditawarkan mampu merubah kemampuan para murid untuk lebih berkonsentrasi pada gadgets dibanding pelajaran. Di dalam kelas bisa nge-twit bebas, update status facebook, bahkan bisa saja ada yang buka youtube. Yah, saya akui kalau saya yang berada pada jaman ini dengan umur yang lebih muda pasti saya akan mengalami hal yang sama
Disamping itu, dampak yang terjadi dengan adanya UN ini adalah makin banyaknya tingkat kecurangan. Kebocoran soal pada beberapa sekolah sengaja dilakukan bahkan oleh para guru dari beberapa sekolah tersebut, dengan tujuan agar semua mahasiswa lulus dan predikat sekolah meningkat. Kalau sudah begini, dimana lagi letak nilai UN tersebut ? Apakah benar niat pemerintah yang awalnya mulia malah membuat kualitas masyarakat menjadi bobrok ?
Bagaimana menurut anda?
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.








lucunya lg, meskipun sebagian siswa dinyatakan tidak lulus… tetap aja ada ujian ulang dan buntut2nya tetep dilulusin jg! aneh2 aja… apa itu ga termasuk “buang2 duit” jg, ya?
ah, setuju sama mba Jum. lha sekarang, apa gunanya kalo ada anak yang gak lulus lalu diberikan ujian ulang dan dibantu diluluskan? buang2 duit negara! mending buat nyekolahin yang nggak bisa bayar uang sekolah aja deh
gimana hasilnya?
mampir dulu
penyakit GO:yang menular melalui hubungan seksual
pdhl mnrt adikku yg lulus SMU tahun ini sih soal-soalnya msh bisa dikerjakan ..well munkin sistem pendidikan kita perlu diperbaharui kl memang yg tdk lulus meningkat tajam
Eh, bukannya kita lulus SMU tahun 2002, ya, Ken?
iyaa mon, udah di edit..hihiiih..thankyuh yahh
eh, komeng ku arusan masuk gak sih *lieur euy*
Saya sih setuju2 aja. Ikuti aja apa mau pemerintah. Toh kan yang lulus UN banyak, sangat banyak dibandingkan dengan yang ga lulus. Ini artinya siswa2 kita pada mampu semua. Yang gak lulus juga udah dikasih kesempatan kedua. Jadi, diikuti aja dulu.
Saya setuju UN, tapi tak perlu dipakai untuk menentukan kelulusan seperti sekarang.
Kalau UN untuk mengetahui kemampuan rata-rata anak negeri itu sah-sah saja.
sebab mengukur kemampuan pendidikan juga penting, sebagai referensi bagi pemerintah dalam membuat terobosan baru dan kebijakan.
Kenapa ya sekarang pada heboh dengan UN. Padahal sejak zaman kami dulu, ketika SD masih bernama SR (Sekolah Rakyat), UN itu sudah ada. Guru2 kami di SR dan SMP bilang : “Nanti soal-soalnya didatangkan dari Jakarta . . . ” Itu kan berarti UN!? Bahkan pemeriksaan hasil ujian dilakukan di kota lain dan dipertukarkan, tidak ada sekolah yang memeriksa hasil dari sekolahnya sendiri. Saya kurang tau waktu SMA (waktu itu namanya SMA bukan SMU) karena waktu saya kelas 3 SMA keadaan dan sistem lagi kacau, ada G-30-S.
UN itu perlu untuk evaluasi dan mengukur kemampuan murid. Apakah kita bisa mempercayakan evaluasi belajar akhir kepada masing2 sekolah? Bagaimana obyektivitasnya? Apakah itu tidak akan menambah kesempatan melakukan kecurangan? Bukankah masing2 sekolah ingin muridnya lulus semua . .?? Dan beberapa pertanyaan lagi.
Sebetulnya sudah ada usaha dari pemerintah untuk mengatasi kesenjangan pendidikan itu dengan membagi sekolah2 menjadi 3 kategori dan membuat soal2 dalam 3 kategori pula dengan tingkat kesulitan berbeda. Menurut saya, kalaupun ada yang kurang, sistemnya yang perlu dibenahi, bukan UN dihilangkan