Recent Comments
mini calendar
February 2010
M T W T F S S
« Jan   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
Flickr Photostream
photo photo photo photo photo photo photo photo

PostHeaderIcon Morning Call

Kalau berbicara tentang morning call, saya jadi ingat tentang servis hotel yang menelfon pengunjung di setiap kamar untuk membangunkan dengan mengucapkan selamat pagi. Tapi, kali ini saya tidak berbicara menganai servis hotel tersebut, melainkan lip service dari semua ibu di setiap belahan bumi dimanapun ia berada kepada anak-anaknya :p

Kebetulan 2 hari yang lalu saya mengunjungi saudara sepupu saya. Seorang ibu muda yang memiliki 2 orang anak. Seorang bocah laki-laki kelas 3 SD dan adik perempuannya kelas 2 SD. Pada pagi hari, di saat saya sedang nyenyak nya tidur, tiba-tiba kuping saya berdenging mendengar teriakan yang tampak familiar ketika saya masih bocah.

Nabiiilllllll…Laylaaaaaa…ayo bangunnnnnnnn nakkkkkkkkk…mau sekolah gaa??? mandi dongggg….!

Teriakan nyaring tersebut bukan saja membuat kuping saya berdenging, tapi juga mata saya terbelalak lebar karena kaget :p . Ketika saya sadar, bahwa baru saya yang bangun karena morning call tersebut sedangkan 2 bocah masih tidur pulas dengan mulut menganga pertanda morning call pertama tidak bekerja dengan baik. Tak lama kemudian, saya mendengar morning call susulan dari sang ibu…

Hadya Laylaaaaaaa…Nabil Adityaaaaaaaaaaaa…haduhhhhh, kok susah amat siih bangunnyaaa..ayo donggg bangunn,,mandiiii..nanti terlambat sekolah

Si ibu masih mondar-mandir ke seluruh ruangan rumah, ntah kenapa ibu-ibu selalu melakukan ritual mondar-mandir ini. Karena saya ga pingin dengar morning call susulan lagi, saya langsung bergegas menuju para bocah. Dengan lembut saya goyangkan badan mereka, lalu saya ucapkan pelan-pelang “bung nabil, adek layla..ayo bangun..kita mandi yukk” , dan tak lama mereka pun tersadar dari tidurnya. Melihat mereka sudah buka mata, saya pun menarik selimut mereka dan mereka pun beranjak dari kasurnya, tapi ternyata morning call susulan masih tetap tak tertahankan..

nabilll,,laylaaaa…..

dan para bocah menyahut dengan suara super lemas dan mata sipit sambil merengut

iya maaaa..kenapa sihh teriak-teriak…

Tiba-tiba pikiran saya melayang kembali ke masa lampau. Rutinitas pagi tersebut mengingatkan saya pada rutinitas yang pernah saya miliki di waktu kecil. Tepatnya selama saya masih bersekolah. Melihat raut muka keponakan-keponakan saya tadi membuat saya ingat betapa jengkelnya dibangunkan dari tidur di pagi hari dengan teriakan khas dari mama. Betapa kesalnya saya harus menyiram badan dengan air yang dingin. Betapa ribetnya harus menyiapkan seragam dan berangkat ke sekolah tepat waktu, dan betapa takutnya saya untuk mendengar omelan mama yang panjang lebar karena anak-anaknya ga bisa disiplin.

Suatu rutinitas yang pada akhirnya membuahkan hasil, paling tidak kepada saya pribadi betapa berharga nya waktu. Mengenal segarnya udara pagi untuk dihirup, dan dapat berdisiplin di setiap kondisi. Ahhh..proses yang panjang yang akhirnya telah saya lewati. Satu pelajaran saya dapatkan lagi, yaitu mengajarkan anak-anak untuk melakukan hal baik bukanlah mudah. Butuh proses panjang dan banyak waktu untuk itu.

Saya segera tersadar dari lamunan saya. Saya melihat keponakan saya masih mondar-mandir di depan saya dengan mimik yang sama namun mata lebih terbuka lebar. Mereka bolak-balik hanya untuk mengambil handuk dan pemanasan sebelum mandi. Dengan reflek pun saya sedikit berteriak..

Ayo dong bungg..adekk mandiiiii…

Ups, saya pun tertawa kecil karena ternyata saya sama saja dengan ibu-ibu lain..hihihii.. :)

  • Share/Save/Bookmark

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

17 Responses to “Morning Call”

Leave a Reply